Ada-ada saja terobosan Real Madrid untuk mempertahankan tingginya pemasukan dari penjualan cendera mata atau merchandise. Madrid tidak lagi menawarkan produk seperti replika seragam, syal, cangkir (mug), jam atau gantungan kunci.
Madridistas kini bisa menunjukkan kecintaan mereka dengan membeli berbagai macam pakaian dalam. Jadi jangan heran jika suatu saat nanti Anda melihat Cristiano Ronaldo memamerkan bentuk tubuh dengan hanya mengenakan pakaian dalam berlogo Real Madrid.
Desain seksi dan produksi diserahkan kepada salah satu perusahaan tekstil berbasis di Valencia. Sejatinya produk terobosan ini baru akan diluncurkan Maret tahun depan, tapi sudah dipublikasi surat kabar Spanyol, Marca. Membawa ikon klub ke kamar tidur semakin menegaskan Madrid sebagai klub sepakbola dengan jaringan komersialisasi tersukses di dunia.
Madrid menggusur Manchester United ke peringkat kedua dalam laporan tahunan akuntan khusus sepakbola, Deloitte, pada musim 2004-05. Sejak saat itu Madrid berhasil menjaga posisinya di puncak klub termakmur.
Sekarang ini, penerimaan hasil penjualan replika seragam dan dari berbagai macam suvenir mencapai lebih dari 90 juta pound (Rp 1,4 triliun). Atau 25 persen dari neraca anggaran pemasukan per tahun yang jumlahnya 360 juta pound (Rp 5,6 triliun).
www.liputanbola.com
Sabtu, 16 Januari 2010
Musim Panas Kendala bagi Pesepakbola Berpuasa
Bagi umat muslim yang tinggal di Eropa, musim panas menjadi musim terberat saat menunaikan ibadah puasa. Pasalnya, selain cuaca yang dipastikan lebih panas, antara 35 sampai 40 derajat Celcius, durasi siangnya pun lebih panjang, rata-rata lebih dari 14 jam. Faktor itulah yang seringkali membuat pesepakbola musim yang tinggal di Benua Biru lebih memilih bocor alias absen berpuasa di hari-hari saat pertandingan digelar.
Itulah yang menjadi “pegangan” hidup Abdelkader Ghezzal, striker AC Siena. Pemain berdarah Aljazair berusia 24 tahun itu mengaku ia tak akan mampu tampil maksimal di lapangan hijau tatkala menunaikan ibadah puasa. Karenanya, “Saya berpuasa ketika libur atau tidak ada pertandingan atau latihan,” aku Ghezzal yang lahir di Decines-Charpieu, salah satu kota di provinsi Rhone, Prancis.
Ghezzal mengaku ia terpaksa melakukan hal tersebut demi menjaga kondisi kesehatannya sendiri. “Sebelumnya, saya selalu taat menjalankan ibadah puasa. Akan tetapi, saya harus mengubah kebiasaan saya tersebut demi menjaga kesehatan diri saya sendiri semenjak beralih menjadi pesepakbola profesional. Saat saya bermain bersama Crotone (penghuni Serie B), saya sempat berpuasa. Namun, setelah dua pekan berlalu, saya jatuh sakit. Terpaksa, akhirnya saya tidak berpuasa," akunya seperti yang dikutip AFP.
Tidak semua pesepakbola atau atlet muslim menempuh jalan seperti yang Ghezzal lakukan. Hal itu sangat tergantung dari kondisi fisik dari masing-masing. Contohnya, menurut Ghezzal, mantan rekannya Houssine Kharja yang kini telah menjadi punggawa Genoa. “Itu (bisa tidaknya berpuasa) tergantung dari kondisi tubuh masing-masing. Rekan saya yang kini bermain bersama Genoa, Houssine Kharja mampu untuk menunaikannya dengan mulus. Kecuali, di hari pertandingan,” terang Ghezzal.
Sejumlah pesepakbola muslim lainnya, seperti gelandang Arsenal, Samir Nasri dan bek baru Manchester City, Kolo Toure, sama-sama mengaku jika mereka bolos berpuasa ketika pertandingan berlangsung. Tidak begitu halnya dengan striker Chelsea, Nicolas Anelka, gelandang Juventus, Momo Sissoko, dan pekerja keras Inter Milan asal Ghana, Sulley Ali Muntari.
Muntari, kemarin sore di Giuseppe Meazza terpaksa ke luar lapangan ketika pertandingan lawan Bari di babak pertama baru berlangsung 29 menit. Allenatore Inter Milan, Jose Mourinho terpaksa menariknya melihat kondisi Muntari yang agak sempoyongan. “Mungkin, dengan cuaca yang sangat panas seperti ini, kurang baik baginya untuk tetap berpuasa. Ramadhan kali ini datang pada momen yang kurang tepat bagi seorang pesepakbola,” ujar Mourinho.
www.liputanbola.com
Itulah yang menjadi “pegangan” hidup Abdelkader Ghezzal, striker AC Siena. Pemain berdarah Aljazair berusia 24 tahun itu mengaku ia tak akan mampu tampil maksimal di lapangan hijau tatkala menunaikan ibadah puasa. Karenanya, “Saya berpuasa ketika libur atau tidak ada pertandingan atau latihan,” aku Ghezzal yang lahir di Decines-Charpieu, salah satu kota di provinsi Rhone, Prancis.
Ghezzal mengaku ia terpaksa melakukan hal tersebut demi menjaga kondisi kesehatannya sendiri. “Sebelumnya, saya selalu taat menjalankan ibadah puasa. Akan tetapi, saya harus mengubah kebiasaan saya tersebut demi menjaga kesehatan diri saya sendiri semenjak beralih menjadi pesepakbola profesional. Saat saya bermain bersama Crotone (penghuni Serie B), saya sempat berpuasa. Namun, setelah dua pekan berlalu, saya jatuh sakit. Terpaksa, akhirnya saya tidak berpuasa," akunya seperti yang dikutip AFP.
Tidak semua pesepakbola atau atlet muslim menempuh jalan seperti yang Ghezzal lakukan. Hal itu sangat tergantung dari kondisi fisik dari masing-masing. Contohnya, menurut Ghezzal, mantan rekannya Houssine Kharja yang kini telah menjadi punggawa Genoa. “Itu (bisa tidaknya berpuasa) tergantung dari kondisi tubuh masing-masing. Rekan saya yang kini bermain bersama Genoa, Houssine Kharja mampu untuk menunaikannya dengan mulus. Kecuali, di hari pertandingan,” terang Ghezzal.
Sejumlah pesepakbola muslim lainnya, seperti gelandang Arsenal, Samir Nasri dan bek baru Manchester City, Kolo Toure, sama-sama mengaku jika mereka bolos berpuasa ketika pertandingan berlangsung. Tidak begitu halnya dengan striker Chelsea, Nicolas Anelka, gelandang Juventus, Momo Sissoko, dan pekerja keras Inter Milan asal Ghana, Sulley Ali Muntari.
Muntari, kemarin sore di Giuseppe Meazza terpaksa ke luar lapangan ketika pertandingan lawan Bari di babak pertama baru berlangsung 29 menit. Allenatore Inter Milan, Jose Mourinho terpaksa menariknya melihat kondisi Muntari yang agak sempoyongan. “Mungkin, dengan cuaca yang sangat panas seperti ini, kurang baik baginya untuk tetap berpuasa. Ramadhan kali ini datang pada momen yang kurang tepat bagi seorang pesepakbola,” ujar Mourinho.
www.liputanbola.com
Rompi Anti-Peluru Dirasa Perlu
Salah satu kekhawatiran yang mengiringi perhelatan akbar Piala Dunia tahun depan yakni tingginya angka kriminalitas di Afrika Selatan (Afsel). Dari para suporter negara peserta hingga pesepakbola yang ambil bagian di dalamnya merasa perlu mewaspadai catatan tersebut.
Agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan beberapa solusi diapungkan. Demi keamanan pemain desakan penggunaan rompi anti-peluru dirasa perlu. Sedikitnya desakan itu telah diwacanakan buat para anggota skuad Der Panzer Jerman. Michael Ballack dkk diharapkan mengenakan perlengkapan keselamatan diri tersebut selama berlaga di Afsel musim panas mendatang.
Kepala firma keamanan yang bermarkas di Leverkusen, BaySecur, menyatakan perlunya pemain Jerman ekstra waspada ketika berada di negara paling selatan di “Benua Hitam” tersebut.
“Kemungkinan para pemain berkeliaran di luar hotel harus ditekan seminimal mungkin,” kata Kepala BaySecur, Guenter Schnelle, sebagaimana dilansir The Telegraph. “Kalaupun mesti keluar hotel, mereka akan mendapat pengawalan penuh: pengawal dengan senjata lengkap dan penggunaan rompi anti-peluru bagi para pemain.”
BaySecur merupakan firma jasa yang diberi tanggung jawab Federasi Sepakbola Jerman (DFB) untuk mengawal seluruh komponen Der Panzer, termasuk tamu penting, ketika melawat ke luar negeri. Dalam hal ini BaySecur sudah memikirkan langkah teknis pengamanan di Afsel setelah Jerman memastikan diri lolos kualifikasi.
DFB menguraikan rencana pengamanan ketat di sekitar hotel tempat Timnas Jerman menginap di Pretoria, salah satu dari lima kota terbesar di Negeri Apartheid. BaySecur mencermati betul rasio kejahatan di Afsel yang menurut data laman resmi Badan Intelejen Amerika Serikat (CIA) memiliki rasio 22,4 kematian per 1.000 individu dua tahun silam.
www.liputanbola.com
Agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan beberapa solusi diapungkan. Demi keamanan pemain desakan penggunaan rompi anti-peluru dirasa perlu. Sedikitnya desakan itu telah diwacanakan buat para anggota skuad Der Panzer Jerman. Michael Ballack dkk diharapkan mengenakan perlengkapan keselamatan diri tersebut selama berlaga di Afsel musim panas mendatang.
Kepala firma keamanan yang bermarkas di Leverkusen, BaySecur, menyatakan perlunya pemain Jerman ekstra waspada ketika berada di negara paling selatan di “Benua Hitam” tersebut.
“Kemungkinan para pemain berkeliaran di luar hotel harus ditekan seminimal mungkin,” kata Kepala BaySecur, Guenter Schnelle, sebagaimana dilansir The Telegraph. “Kalaupun mesti keluar hotel, mereka akan mendapat pengawalan penuh: pengawal dengan senjata lengkap dan penggunaan rompi anti-peluru bagi para pemain.”
BaySecur merupakan firma jasa yang diberi tanggung jawab Federasi Sepakbola Jerman (DFB) untuk mengawal seluruh komponen Der Panzer, termasuk tamu penting, ketika melawat ke luar negeri. Dalam hal ini BaySecur sudah memikirkan langkah teknis pengamanan di Afsel setelah Jerman memastikan diri lolos kualifikasi.
DFB menguraikan rencana pengamanan ketat di sekitar hotel tempat Timnas Jerman menginap di Pretoria, salah satu dari lima kota terbesar di Negeri Apartheid. BaySecur mencermati betul rasio kejahatan di Afsel yang menurut data laman resmi Badan Intelejen Amerika Serikat (CIA) memiliki rasio 22,4 kematian per 1.000 individu dua tahun silam.
www.liputanbola.com
Sederet Insiden Ludah Terburuk
Bagi seorang pemain sepakbola, meludah di lapangan hijau adalah hal yang biasa. Namun, ‘luar biasa’ jika itu dilakukan terhadap pemain lawan. Tudingan yang dilontarkan manajer Hull City, Phil Brown yang menuduh gelandang Arsenal, Francesc Fabregas meludahi asistennya, Brian Horton, paskalaga babak perempat final FA Cup di Emirates Stadium, Selasa (17/3), kian menambah panjang daftar aksi ludah yang terjadi sepanjang sejarah sepakbola. Berikut sepuluh insiden ludah versi The Telegraph yang boleh dibilang pantas dianggap sebagai yang terburuk.
1. Frank Rijkaard
Tidak ada yang menampik jika dikatakan aksi ludah Frank Rijkaard terhadap Rudi Voller merupakan yang terheboh. Peristiwanya terjadi di babak 16 besar Piala Dunia (PD) 1990 antara Jerman vs Belanda yang digelar di Giuseppe Meazza, Minggu, 24 Juni 1990. Babak pertama baru berjalan 21 menit. Ulah Rijkaard yang menekel Voller diganjar kartu kuning oleh wasit Juan Loustau (Argentina). Voller yang mengaku diludahi Rijkaard mengadu kepada Loustau. Alih-alih Rijkaard dihukum, justru Voller dihukum kartu kuning.
Lalu, beberapa saat kemudian, dari tendangan bebas, Voller terjatuh dan dituding kiper Tim Oranye, Hans van Breukelen, melakukan diving. Terjadi adu mulut. Rijkaard nimbrung. Walhasil, karena melihat tensi kian panas, Loustau mengeluarkan kartu kuning kedua alias kartu merah kepada kedua pemain. Tim Panser lebih diuntungkan dengan dikeluarkannya Rijkaard. Jerman pun melaju ke babak perempat final dan akhirnya tampil sebagai juara dunia PD 1990.
2. El Hadji Diouf
Dari sononya, Diouf, striker Timnas Senegal, memang “ditakdirkan” sering bikin ulah. Kali ini aksinya bak senjata makan tuan. Saat masih memperkuat Liverpool, Diouf meludah seorang suporter Celtic saat kedua tim berlaga di babak perempat final UEFA Cup 2003. Diouf pun didenda The Reds dan Glasgow Sheriff Court.
3. Fabien Barthez
Si botak, Barthez, dikenai sanksi larangan bertanding di partai internasional selama enam bulan (tiga bulan masa percobaan) gara-gara ulahnya meludah wasit Luksemburg, Alain M. Hamer yang menjadi pengadil partai persahabatan antara Prancis dan Maroko di Stade Velderome, Marseille, 20 Januari 1999. Barthez mengaku menyesal. Namun, “Saya tidak bersalah, sebab, saya tidak meludahi mukanya,” kilah Barthez yang saat itu masih bermain bersama AS Monaco.
4. Patrick Vieira
Selama memperkuat Arsenal di musim 1996-2005), Vieira adalah pemain yang paling sering mendapat kartu merah dari para wasit Liga Premier. Tercatat sembilan kali Vieira mendapatkannya. Salah satunya ketika The Gunners bertanding melawan West Ham United, Oktober 1999. Yang buruk, seusai diganjar kartu, Vieira meludahi defender The Hammers, Neil Ruddock. Vieira pun diganjar larangan tampil sebanyak enam partai dan denda sebesar 30 ribu pound.
5. Stephane Henchoz
Henchoz—bek berkebangsaan Swiss yang kini telah gantung sepatu—meludahi Neil Warnock saat Liverpool bertanding melawan Sheffield United di ajang Worthington Cup, 2003.
6. Francesco Totti
Insiden ludah yang dilakukan Totti terhadap gelandang Denmark, Christian Poulsen terjadi di putaran final Euro 2004 lalu yang berlangsung di Portugal. Alhasil, Pangeran Roma dikenai hukuman larangan tampil dalam tiga pertandingan. Di ajang yang sama, kapten Timnas Swiss, Alexander Frei juga mendapat hukuman serupa karena ‘mencekik’ gelandang Inggris, Steven Gerrard.
7. Christophe Dugarry
Di St Andrews, Dugarry menjadi favorit fans Birmingham City. Namun, Dugarry kehilangan kontrol dan meludahi gelandang Aston Villa asal Islandia, Joey Gudjonsson, Maret 2003. FA turun tangan dan menghukum Dugarry dengan denda sebesar 12.500 pound.
8. John Terry
Tidak ada hukuman atau skorsing maupun denda yang dijatuhkan kepada kapten Chelsea, John Terry yang dituding telah meludahi striker Manchester United, Carlos Tevez, ketika kedua tim berlaga di babak final Liga Champions 2008 yang berlangsung di Luzhniki Stadium, Moskow, 21 Mei 2008.
9. Cristiano Ronaldo
Pun demikian dengan nasib bintang MU, Cristiano Ronaldo. Aksi meludah yang ia lakukan terhadap gelandang Derby County, Robbie Savage ketika kedua tim bertemu di putaran kelima FA Cup 2008-09 lolos dari sanksi.
10. Lionel Messi
Sama halnya dengan nasib Messi, striker Timnas Argentian yang bermain bersama Barcelona. Messi pun kehilangan kendali dan meludah winger Malaga, Duda, ketika kedua tim bertemu di La Rosaleda, 1 November 2008.
www.liputanbola.com
1. Frank Rijkaard
Tidak ada yang menampik jika dikatakan aksi ludah Frank Rijkaard terhadap Rudi Voller merupakan yang terheboh. Peristiwanya terjadi di babak 16 besar Piala Dunia (PD) 1990 antara Jerman vs Belanda yang digelar di Giuseppe Meazza, Minggu, 24 Juni 1990. Babak pertama baru berjalan 21 menit. Ulah Rijkaard yang menekel Voller diganjar kartu kuning oleh wasit Juan Loustau (Argentina). Voller yang mengaku diludahi Rijkaard mengadu kepada Loustau. Alih-alih Rijkaard dihukum, justru Voller dihukum kartu kuning.
Lalu, beberapa saat kemudian, dari tendangan bebas, Voller terjatuh dan dituding kiper Tim Oranye, Hans van Breukelen, melakukan diving. Terjadi adu mulut. Rijkaard nimbrung. Walhasil, karena melihat tensi kian panas, Loustau mengeluarkan kartu kuning kedua alias kartu merah kepada kedua pemain. Tim Panser lebih diuntungkan dengan dikeluarkannya Rijkaard. Jerman pun melaju ke babak perempat final dan akhirnya tampil sebagai juara dunia PD 1990.
2. El Hadji Diouf
Dari sononya, Diouf, striker Timnas Senegal, memang “ditakdirkan” sering bikin ulah. Kali ini aksinya bak senjata makan tuan. Saat masih memperkuat Liverpool, Diouf meludah seorang suporter Celtic saat kedua tim berlaga di babak perempat final UEFA Cup 2003. Diouf pun didenda The Reds dan Glasgow Sheriff Court.
3. Fabien Barthez
Si botak, Barthez, dikenai sanksi larangan bertanding di partai internasional selama enam bulan (tiga bulan masa percobaan) gara-gara ulahnya meludah wasit Luksemburg, Alain M. Hamer yang menjadi pengadil partai persahabatan antara Prancis dan Maroko di Stade Velderome, Marseille, 20 Januari 1999. Barthez mengaku menyesal. Namun, “Saya tidak bersalah, sebab, saya tidak meludahi mukanya,” kilah Barthez yang saat itu masih bermain bersama AS Monaco.
4. Patrick Vieira
Selama memperkuat Arsenal di musim 1996-2005), Vieira adalah pemain yang paling sering mendapat kartu merah dari para wasit Liga Premier. Tercatat sembilan kali Vieira mendapatkannya. Salah satunya ketika The Gunners bertanding melawan West Ham United, Oktober 1999. Yang buruk, seusai diganjar kartu, Vieira meludahi defender The Hammers, Neil Ruddock. Vieira pun diganjar larangan tampil sebanyak enam partai dan denda sebesar 30 ribu pound.
5. Stephane Henchoz
Henchoz—bek berkebangsaan Swiss yang kini telah gantung sepatu—meludahi Neil Warnock saat Liverpool bertanding melawan Sheffield United di ajang Worthington Cup, 2003.
6. Francesco Totti
Insiden ludah yang dilakukan Totti terhadap gelandang Denmark, Christian Poulsen terjadi di putaran final Euro 2004 lalu yang berlangsung di Portugal. Alhasil, Pangeran Roma dikenai hukuman larangan tampil dalam tiga pertandingan. Di ajang yang sama, kapten Timnas Swiss, Alexander Frei juga mendapat hukuman serupa karena ‘mencekik’ gelandang Inggris, Steven Gerrard.
7. Christophe Dugarry
Di St Andrews, Dugarry menjadi favorit fans Birmingham City. Namun, Dugarry kehilangan kontrol dan meludahi gelandang Aston Villa asal Islandia, Joey Gudjonsson, Maret 2003. FA turun tangan dan menghukum Dugarry dengan denda sebesar 12.500 pound.
8. John Terry
Tidak ada hukuman atau skorsing maupun denda yang dijatuhkan kepada kapten Chelsea, John Terry yang dituding telah meludahi striker Manchester United, Carlos Tevez, ketika kedua tim berlaga di babak final Liga Champions 2008 yang berlangsung di Luzhniki Stadium, Moskow, 21 Mei 2008.
9. Cristiano Ronaldo
Pun demikian dengan nasib bintang MU, Cristiano Ronaldo. Aksi meludah yang ia lakukan terhadap gelandang Derby County, Robbie Savage ketika kedua tim bertemu di putaran kelima FA Cup 2008-09 lolos dari sanksi.
10. Lionel Messi
Sama halnya dengan nasib Messi, striker Timnas Argentian yang bermain bersama Barcelona. Messi pun kehilangan kendali dan meludah winger Malaga, Duda, ketika kedua tim bertemu di La Rosaleda, 1 November 2008.
www.liputanbola.com
The Gunners Tergugah Perjuangan Seorang Bocah
Cerita ringan yang membuktikan pesepakbola profesional yang berkecimpung dalam kompetisi Liga Premier Inggris tidak melulu terjebak dalam gaya hidup yang berfoya-foya ataupun senang main perempuan. Masih banyak pesepakbola lainnya yang punya hati nurani untuk membantu sesama.
Itulah yang ditunjukkan manajer dan para pemain Arsenal yang sudi bergotong royong—merogoh dompetnya masing-masing—untuk membantu Unit Lung Function di Rumah Sakit Great Ormond Street, London. Besarnya iuran The Gunners terbilang lebih dari lumayan, mencapai 500 ribu pound atau sekitar Rp 8,25 miliar!
Usut punya usut, kemauan untuk berbagi atau berderma itu dipicu dari perjuangan seorang bocah bernama Jake Peach. Sebagaimana anak normal lainnya, putra pasangan Sersan Martin Boreham dan Karen Hunter, supervisor retail, yang berusia 12 tahun ini gemar bermain bola. Namun, apa daya, pada Hari Ibu, 23 Maret 2008 lalu, Jake divonis mengidap penyakit kanker darah atau yang lebih dikenal dengan leukemia. Alhasil, Jake kudu menjalani kemoterapi.
Di sela-sela kemoterapi, muncul masalah baru. Selain suhu tubuhnya kian memanas, mencapai 40 derajat Celcius, Jake terkena radang paru-paru. Batuknya mengeluarkan darah. Mengingat lemahnya kondisi Jake, tim dokter memutuskan memasukkannya dalam ventilator dan membuatnya pingsan. Empat minggu berlalu, usaha tim medis berjalan tanpa hasil. Dokter pun waswas jika Jake tak mampu bangun kembali. “Saya mulai hilang harapan (akan keselamatan Jake),” kata Karen lirih seperti yang dikutip The Sun.
Namun, nasib orang siapa tahu. Perlahan tapi pasti, pendarahan dari paru-paru Jake mulai berhenti. Ia pun kembali bisa bernafas. Meski demikian, Jake tetap tak sadarkan diri. Dua bulan berlalu, mukjizat itu datang. Jake kembali siuman. Guna kembali dapat bermain bola, tanpa kenal lelah Jake, dengan dibantu Karen, melakukan fisioterapi. Hasilnya, sembilan pekan kemudian, Karen tak mampu menutupi kegembiraannya melihat putranya itu kembali sembuh seperti sediakala.
Nah, di sela-sela proses fisioterapi itulah, September 2008, Jake yang mengaku lebih senang menjadi kiper, dijanjikan “kado” oleh lembaga amal Rays of Shunshine yaitu, jika sembuh, ia dapat bertemu dengan para pemain Arsenal di Emirates Stadium. Alhasil, Jake mendapat kado tersebut pada Kamis (6/8) lalu seiring dengan kedatangan Cesc Fabregas dkk ke Rumah Sakit Great Ormond Street. “Arsenal menjadi inspirasi yang luar biasa bagi saya. Apa yang selama ini saya inginkan adalah kembali bermain bola,” ujar Jake penuh semangat.
Tak kalah gembiranya Jake mendengar kabar jika skuad Wenger mau membantu rumah sakit di mana ia dirawat. “Serasa terbang ke langit mendengar Arsenal mau membantu (RS) Great Ormond Street. Tak terpikir sedikit pun jika mereka bakal memilih kami. Hari ini hari yang terbaik bagi tim terbaik di dunia dan bagi rumah sakit yang terbaik pula. Anak-anak di Great Ormond Street tentunya akan sangat menghargai bantuan dan dukungan Arsenal. Bahkan, bagi anak-anak pendukung Chelsea sekalipun,” tegas Jake.
Fabregas mengaku angkat topi dengan kegigihan Jake dalam memulihkan kondisinya. “Luar biasa. Ia punya mental yang kuat. Saya pun yakin anak-anak lainnya yang mengalami kondisi serupa juga punya mental yang kuat pula. Jake harus berlatih dari nol untuk kembali ke kondisi semula. Sedih mendengarnya. Namun, hikmahnya, perjuangan Jake membuktikan jika seseorang ingin benar-benar mendapatkan sesuatu, ia bakal bisa mendapatkannya,” puji Fabregas.
Sikap mental Jake itu pun bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pesepakbola profesional. “Bagi pesepakbola, jika belum mendapat kesempatan untuk bermain, mungkin saja ia tak akan mau berlatih dengan keras. Tetapi, justru sebaliknya. Jika dalam kondisi seperti itu, ia harus berlatih dengan lebih keras untuk menunjukkan kepada bos (manajer) bahwa ia layak dimasukkan dalam skuad. Kami dapat mengambil banyak pelajaran dari (perjuangan) anak-anak seperti Jake,” tandas Fabregas.
www.liputanbola.com
Itulah yang ditunjukkan manajer dan para pemain Arsenal yang sudi bergotong royong—merogoh dompetnya masing-masing—untuk membantu Unit Lung Function di Rumah Sakit Great Ormond Street, London. Besarnya iuran The Gunners terbilang lebih dari lumayan, mencapai 500 ribu pound atau sekitar Rp 8,25 miliar!
Usut punya usut, kemauan untuk berbagi atau berderma itu dipicu dari perjuangan seorang bocah bernama Jake Peach. Sebagaimana anak normal lainnya, putra pasangan Sersan Martin Boreham dan Karen Hunter, supervisor retail, yang berusia 12 tahun ini gemar bermain bola. Namun, apa daya, pada Hari Ibu, 23 Maret 2008 lalu, Jake divonis mengidap penyakit kanker darah atau yang lebih dikenal dengan leukemia. Alhasil, Jake kudu menjalani kemoterapi.
Di sela-sela kemoterapi, muncul masalah baru. Selain suhu tubuhnya kian memanas, mencapai 40 derajat Celcius, Jake terkena radang paru-paru. Batuknya mengeluarkan darah. Mengingat lemahnya kondisi Jake, tim dokter memutuskan memasukkannya dalam ventilator dan membuatnya pingsan. Empat minggu berlalu, usaha tim medis berjalan tanpa hasil. Dokter pun waswas jika Jake tak mampu bangun kembali. “Saya mulai hilang harapan (akan keselamatan Jake),” kata Karen lirih seperti yang dikutip The Sun.
Namun, nasib orang siapa tahu. Perlahan tapi pasti, pendarahan dari paru-paru Jake mulai berhenti. Ia pun kembali bisa bernafas. Meski demikian, Jake tetap tak sadarkan diri. Dua bulan berlalu, mukjizat itu datang. Jake kembali siuman. Guna kembali dapat bermain bola, tanpa kenal lelah Jake, dengan dibantu Karen, melakukan fisioterapi. Hasilnya, sembilan pekan kemudian, Karen tak mampu menutupi kegembiraannya melihat putranya itu kembali sembuh seperti sediakala.
Nah, di sela-sela proses fisioterapi itulah, September 2008, Jake yang mengaku lebih senang menjadi kiper, dijanjikan “kado” oleh lembaga amal Rays of Shunshine yaitu, jika sembuh, ia dapat bertemu dengan para pemain Arsenal di Emirates Stadium. Alhasil, Jake mendapat kado tersebut pada Kamis (6/8) lalu seiring dengan kedatangan Cesc Fabregas dkk ke Rumah Sakit Great Ormond Street. “Arsenal menjadi inspirasi yang luar biasa bagi saya. Apa yang selama ini saya inginkan adalah kembali bermain bola,” ujar Jake penuh semangat.
Tak kalah gembiranya Jake mendengar kabar jika skuad Wenger mau membantu rumah sakit di mana ia dirawat. “Serasa terbang ke langit mendengar Arsenal mau membantu (RS) Great Ormond Street. Tak terpikir sedikit pun jika mereka bakal memilih kami. Hari ini hari yang terbaik bagi tim terbaik di dunia dan bagi rumah sakit yang terbaik pula. Anak-anak di Great Ormond Street tentunya akan sangat menghargai bantuan dan dukungan Arsenal. Bahkan, bagi anak-anak pendukung Chelsea sekalipun,” tegas Jake.
Fabregas mengaku angkat topi dengan kegigihan Jake dalam memulihkan kondisinya. “Luar biasa. Ia punya mental yang kuat. Saya pun yakin anak-anak lainnya yang mengalami kondisi serupa juga punya mental yang kuat pula. Jake harus berlatih dari nol untuk kembali ke kondisi semula. Sedih mendengarnya. Namun, hikmahnya, perjuangan Jake membuktikan jika seseorang ingin benar-benar mendapatkan sesuatu, ia bakal bisa mendapatkannya,” puji Fabregas.
Sikap mental Jake itu pun bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pesepakbola profesional. “Bagi pesepakbola, jika belum mendapat kesempatan untuk bermain, mungkin saja ia tak akan mau berlatih dengan keras. Tetapi, justru sebaliknya. Jika dalam kondisi seperti itu, ia harus berlatih dengan lebih keras untuk menunjukkan kepada bos (manajer) bahwa ia layak dimasukkan dalam skuad. Kami dapat mengambil banyak pelajaran dari (perjuangan) anak-anak seperti Jake,” tandas Fabregas.
www.liputanbola.com
Tato Koleksi Terbaru Beckham
Sebuah tato tambahan menghiasi tubuh bintang sepakbola Inggris, David Beckham. Gelandang Los Angeles Galaxy yang tengah menghabiskan masa peminjaman selama enam bulan di AC Milan itu menunjukkan tato terbarunya ketika Rossoneri memberangus Juventus lewat kemenangan 3-0 di Stadio Olimpico Grande, Turin, Minggu (10/1) atau Senin dini hari WIB.
Di perut bagian kanan Beckham terpampang potret Jesus dari lukisan karya Matthew R. Brooks yang berjudul “The Man of Sorrow” atau “Penderitaan Jesus”. Inilah untuk kali pertama tato tersebut terekspos dan melengkapi koleksi salah satu kegemaran dari mantan ikon Manchester United dan Real Madrid.
Setiap tato yang dibuat memiliki latar belakang yang berhubungan dengan orang terdekatnya (keluarganya), tidak terkecuali potret Jesus dalam posisi duduk tersebut. The Sun mengklaim bahwa tato terbaru itu didedikasikan buat mendiang kakek tercintanya, Joseph ‘Joe’ West, yang meninggal di awal Desember lalu.
“Tato-tato yang terpampang memiliki arti yang berkaitan tentang hidup, istri dan anak-anakku,” seru Beckham. “Saya ingin mereka selalu hadir dalam kehidupanku. Tato-tato ini merupakan bentuk ekspresi perasaanku (cinta) terhadap Victoria (sang istri) dan anak-anakku. Mereka bagian yang tidak terpisahkan dariku.”
www.liputanbola.com
Di perut bagian kanan Beckham terpampang potret Jesus dari lukisan karya Matthew R. Brooks yang berjudul “The Man of Sorrow” atau “Penderitaan Jesus”. Inilah untuk kali pertama tato tersebut terekspos dan melengkapi koleksi salah satu kegemaran dari mantan ikon Manchester United dan Real Madrid.
Setiap tato yang dibuat memiliki latar belakang yang berhubungan dengan orang terdekatnya (keluarganya), tidak terkecuali potret Jesus dalam posisi duduk tersebut. The Sun mengklaim bahwa tato terbaru itu didedikasikan buat mendiang kakek tercintanya, Joseph ‘Joe’ West, yang meninggal di awal Desember lalu.
“Tato-tato yang terpampang memiliki arti yang berkaitan tentang hidup, istri dan anak-anakku,” seru Beckham. “Saya ingin mereka selalu hadir dalam kehidupanku. Tato-tato ini merupakan bentuk ekspresi perasaanku (cinta) terhadap Victoria (sang istri) dan anak-anakku. Mereka bagian yang tidak terpisahkan dariku.”
www.liputanbola.com
Tak Masalah Bermain Sambil Berpuasa
Bugar menjadi keharusan buat pesepakbola. Apalagi bagi pemain profesional di liga-liga utama Eropa seperti di Spanyol, Italia dan Inggris. Kebutuhan pokok yang menggiring pesepakbola Muslim meninggalkan ibadah poin keempat dari lima butir dalam Rukun Islam.
Kondisi di Eropa sekarang ini sedang tidak bersahabat bagi pesepakbola untuk berpuasa. Karena itu beberapa pemain memutuskan absen menunaikannya (Baca: Musim Panas, Kendala bagi Pesepakbola Berpuasa). Akan tetapi, buat penyerang Sevilla asal Mali, Frederic Kanoute tidak ada alasan baginya meninggalkan ibadah utama dalam agama yang dianutnya tersebut.
Kondisi apapun tidak bisa ditawar-tawar. Bermain dan berpuasa jalan berbarengan. “Saya menghormati agamaku dan akan beribadah sebaik mungkin,” kata Kanoute seperti apa yang dikatakannya pada Goal.com. “Kondisi di Spanyol bagian selatan, Andalusia, tempat Sevilla bermarkas, merupakan daerah terpanas di Benua Eropa. Tapi, “Saya bisa (dan harus) menjalaninya, terima kasih Allah SWT.”
Sejatinya banyak pesepakbola beragama Islam bermain di liga-liga Eropa, “namun mereka enggan mengatakan sesuatu menganai hubungan puasa dan bermain,” katanya lagi. “Buat saya pribadi, keyakinan membantu saya dalam bermain dan sepakbola membantu saya tetap sehat. Tidak ada masalah karena siapa pun yang mengerti akan Islam tahu puasa tidak akan melemahkan seseorang.”
Di Real Madrid terdapat Mahamadou Diarra, Lassana Diarra dan Karim Benzema yang juga tetap berpuasa tanpa melupakan profesionalitasnya terhadap kontrak yang telah ditandatangani. Untuk trio Los Merengues itu, tim dokter terus memantau kondisi mereka agar jangan sampai terkena dehidrasi.
Diarra tidak kalah takut untuk terus berpuasa meski musim kompetisi La Liga akan dimulai per 29 Agustus. “Setiap pelatih respek terhadap keputusanku,” tulis Diarra dalam situs resmi Real Madrid. “Memang sulit namun Ramadhan hanya sebulan. Saya bisa bermain baik di 10 bulan lainnya.”
Berpuasa juga dilakukan pesepakbola Muslim yang bernaung bersama Barcelona. Mereka yakni Eric Abidal, Seydou Keita dan Toure Yaya.
Dokter Yacine Zerguni, anggota Komite Kesehatan FIFA dan CAF Sports, melakukan penelitian mengenai efek puasa bagi pesepakbola Dua pesepakbola keturunan Aljazair disertakan sebagai sampel dari observasi tersebut. Selain faktor fisik, kondisi psikologis dari pemain yang dijadikan bahan penelitian itu juga ditinjau.
“Banyak pesepakbola memang tidak bisa beradaptasi dengan baik ketika berpuasa. Namun di sisi lain kualitas spiritual mereka meningkat dan juga akan memberi pengaruh positif buat fisik mereka,” ujar Zernugi. “Namun di beberapa kasus, kondidi tubuh si pemain bisa beradaptasi dengan baik. Dalam paketnya, sebelum dan sesudah pertandingan, pemain akan lebih lelah dari biasanya.”
www.liputanbola.com
Kondisi di Eropa sekarang ini sedang tidak bersahabat bagi pesepakbola untuk berpuasa. Karena itu beberapa pemain memutuskan absen menunaikannya (Baca: Musim Panas, Kendala bagi Pesepakbola Berpuasa). Akan tetapi, buat penyerang Sevilla asal Mali, Frederic Kanoute tidak ada alasan baginya meninggalkan ibadah utama dalam agama yang dianutnya tersebut.
Kondisi apapun tidak bisa ditawar-tawar. Bermain dan berpuasa jalan berbarengan. “Saya menghormati agamaku dan akan beribadah sebaik mungkin,” kata Kanoute seperti apa yang dikatakannya pada Goal.com. “Kondisi di Spanyol bagian selatan, Andalusia, tempat Sevilla bermarkas, merupakan daerah terpanas di Benua Eropa. Tapi, “Saya bisa (dan harus) menjalaninya, terima kasih Allah SWT.”
Sejatinya banyak pesepakbola beragama Islam bermain di liga-liga Eropa, “namun mereka enggan mengatakan sesuatu menganai hubungan puasa dan bermain,” katanya lagi. “Buat saya pribadi, keyakinan membantu saya dalam bermain dan sepakbola membantu saya tetap sehat. Tidak ada masalah karena siapa pun yang mengerti akan Islam tahu puasa tidak akan melemahkan seseorang.”
Di Real Madrid terdapat Mahamadou Diarra, Lassana Diarra dan Karim Benzema yang juga tetap berpuasa tanpa melupakan profesionalitasnya terhadap kontrak yang telah ditandatangani. Untuk trio Los Merengues itu, tim dokter terus memantau kondisi mereka agar jangan sampai terkena dehidrasi.
Diarra tidak kalah takut untuk terus berpuasa meski musim kompetisi La Liga akan dimulai per 29 Agustus. “Setiap pelatih respek terhadap keputusanku,” tulis Diarra dalam situs resmi Real Madrid. “Memang sulit namun Ramadhan hanya sebulan. Saya bisa bermain baik di 10 bulan lainnya.”
Berpuasa juga dilakukan pesepakbola Muslim yang bernaung bersama Barcelona. Mereka yakni Eric Abidal, Seydou Keita dan Toure Yaya.
Dokter Yacine Zerguni, anggota Komite Kesehatan FIFA dan CAF Sports, melakukan penelitian mengenai efek puasa bagi pesepakbola Dua pesepakbola keturunan Aljazair disertakan sebagai sampel dari observasi tersebut. Selain faktor fisik, kondisi psikologis dari pemain yang dijadikan bahan penelitian itu juga ditinjau.
“Banyak pesepakbola memang tidak bisa beradaptasi dengan baik ketika berpuasa. Namun di sisi lain kualitas spiritual mereka meningkat dan juga akan memberi pengaruh positif buat fisik mereka,” ujar Zernugi. “Namun di beberapa kasus, kondidi tubuh si pemain bisa beradaptasi dengan baik. Dalam paketnya, sebelum dan sesudah pertandingan, pemain akan lebih lelah dari biasanya.”
www.liputanbola.com
Langganan:
Postingan (Atom)