Etika Profesi Bidang Teknologi informasi
Etika profesi adalah norma-norma, syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi oleh sekelompok orang yang disebut kalangan profesional. Lalu siapakah yang disebut profesional itu? Orang yang menyandang suatu profesi tertentu disebut seorang profesional.
Kode Etik Seorang Profesional Teknologi Informasi ( TI )
Dalam lingkup TI, kode etik profesinya memuat kajian ilmiah mengenai prinsip atau norma-norma dalam kaitan dengan hubungan antara professional atau developer TI dengan klien, antara para professional sendiri, antara organisasi profesi serta organisasi profesi dengan pemerintah. Salah satu bentuk hubungan seorang profesional dengan klien (pengguna jasa) misalnya pembuatan sebuah program aplikasi. Seorang profesional tidak dapat membuat program semaunya, ada beberapa hal yang harus ia perhatikan seperti untuk apa program tersebut nantinyadigunakan oleh kliennya atau user; iadapat menjamin keamanan (security) sistem kerja program aplikasi tersebut dari pihak-pihak yang dapat mengacaukan sistem kerjanya(misalnya: hacker, cracker, dll).
Sebagai seorang yang profesional, kita mempunyai tanggung jawab untuk mempromosikan etika penggunaan teknologi informasi di tempat kerja. Kita mempunyai tanggung jawab manajerial. Kita harus menerima tanggung jawab secara etis seiring dengan aktivitas pekerjaan. Hal itu termasuk melaksanakan peran kita dengan baik sebagai suatu sumber daya manusia yang penting di dalam sistem bisnis dalam organisasi.
Sebagai seorang manajer atau pebisnis profesional, akan jadi tanggung jawab kita untuk membuat keputusan-keputusan tentang aktivitas bisnis dan penggunaan teknologi informasi, yang mungkin mempunyai suatu dimensi etis yang harus dipertimbangkan.
Kode etik profesi bidang teknologi informasi di Indonesia memang belum ada yang tertulis. Namun, kita bisa menerapkan kode etik yang dibuat oleh IEEE. IEEE telah membuat semacam kode etik bagi anggotanya, sebagai berikut:
1.To accept responsibility in making decisions consistent with the safety, health and welfare of the public, and to disclose promptly factors that might endanger the public or the environment.
Artinya setiap anggota bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan konsisten dengan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, serta segera mengungkapkan faktor-faktor yang dapat membahayakan publik atau lingkungan.
2. To avoid real or perceived conflicts of interest whenever possible, and to disclose them to affected parties when they do exist.
Intinya ialah sebisa mungkin menghindari terjadinya konflik kepentingan dan meluruskan mereka yang telah terpengaruh oleh konflik tersebut.
3. To be honest and realistic in stating claims or estimates based on available data.
Masih ingat dengan Pemilu 2009 kemarin? Betapa lamanya KPU memproses hasil penghitungan suara. Pihak yang bertanggung jawab atas urusan TI KPU sebelumnya menyatakan bahwa sistem yang mereka buat sudah teruji reliabilitasnya dan rekapitulasi suara akan berjalan lancar. Jadi tidak sesuai apa yang dikatakan dengan apa yang terjadi sebenarnya.
4. To reject bribery in all its forms.
Sesuatu yang sangat langka di Indonesia, bukan hanya di bidang politiknya saja, di bidang teknologi informasinya pun bisa dikatakan sedikit yang bisa melakukannya.
5. To improve the understanding of technology, its appropriate application, and potential consequences.
Setiap saat meningkatkan pemahaman teknologi, aplikasi yang sesuai, dan potensi konsekuensi.
6. To maintain and improve our technical competence and to undertake technological tasks for others only if qualified by training or experience, or after full disclosure of pertinent limitations.
Untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi teknis dan teknologi untuk melakukan tugas-tugas bagi orang lain hanya jika memenuhi syarat melalui pelatihan atau pengalaman, atau setelah pengungkapan penuh keterbatasan bersangkutan.
7. To seek, accept, and offer honest criticism of technical work, to acknowledge and correct errors, and to credit properly the contributions of others.
Untuk mencari, menerima, jujur dan menawarkan kritik dari teknis pekerjaan, mengakui dan memperbaiki kesalahan, dan memberikan kredit atas kontribusi orang lain.
8. To treat fairly all persons regardless of such factors as race, religion, gender, disability, age, or national origin.
Memperlakukan dengan adil semua orang tanpa memperhitungkan faktor-faktor seperti ras, agama, jenis kelamin, cacat, usia, atau asal kebangsaan.
9. To avoid injuring others, their property, reputation, or employment by false or malicious action.
Menghindari melukai orang lain, milik mereka, reputasi, atau pekerjaan dengan tindakan salah atau jahat.
10. To assist colleagues and co-workers in their professional development and to support them in following this code of ethics.
Saling membantu antar rekan kerja dalam pengembangan profesi mereka dan mendukung mereka dalam mengikuti kode etik ini.
Sumber:
- http://rizki-fauzi90.blogspot.com/2011/11/etika-profesi-bidang-teknologi.html
Rabu, 28 Maret 2012
Rabu, 14 Maret 2012
Etika dan Profesionalisme TSI: Cara Penilaian Baik dan Buruk Menurut:
1. Aliran Eudaemonisme
Eudaemonisme yakni aliran filsafat etika yg menafsirkan tujuan manusia sehingga tercapainya kebahagiaan yang paripurna akibat mekarnya segala potensi manusia. Aristoteles (384-322), dalam bukunya yang berjudul “Nicomachean Ethics,” mencetuskan apa yang disebut sebagai etika “eudaemonisme” rasional (dari Yunani “eudaemon” yang berarti bahagia). Aristoteles mengatakan bahwa segala aktivitas hidup manusia terarah kepada kebaikan. Kebaikan yang dikejar itulah yang disebut kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan cetusan yang paling sempurna, ideal dan rasional dari aktivitas tindakan manusia. Namun, apa yang disebut sebagai kebahagiaan menurut Aristoteles, bukanlah sesuatu yang sudah selesai, rampung dan tuntas. Kebahagiaan harus disamakan dengan aktivitas, yaitu aktivitas mencari kebahagiaan. Dengan demikian, etika “eudaemonisme” Aristotelian adalah etika yang berhubungan dengan rasionalitas manusia.
Gagasan “eudaimonia” dalam pemahaman Epicuros, terwujud dalam “kenikmatan” (pleasure), yaitu kenikmatan yang mengalir dari aktivitas makan dan minum (the roots of all good is the pleasure that comes from the eating and drinking). Sedangkan menurut kaum Epicurian, kebahagiaan terletak pada aktivitas dan kepuasan diri yang rendah. Tesis kaum Epicurian, kemudian dilanjutkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Bentham mengatakan, bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh dua unsur, yaitu perasaan sakit dan kenikmatan (pain and pleasure). Pengertian ini mengandaikan sebuah karakter untuk menghindari penderitaan dan mengejar kenikmatan, yaitu kenikmatan yang terbatas pada aktivitas makan dan minum.
Berbeda dengan Epicuros, Jeremy Bentham dan kaum Epicurian, Aristoteles tidak meletakkan “eudaimonia” pada “rasa, cita rasa dan kenikmatan.” Etika “eudaimonia” Aristoteles lebih mengarah kepada karakter rasional. Bagi Aristoteles, manusia dengan rasionya (akal budinya), dapat meraih kebahagiaan bagi hidupnya. Namun, menurut Aristoteles, manusia harus menjalankan aktivitasnya (akal budinya) menurut keutamaan (virtue) untuk mencapai kebahagiaan, karena aktivitas yang disertai keutamaan (virtue) dapat membuat manusia bahagia. Kebahagiaan menurut Aristoteles tidak terletak pada pengertian menikmati hasil atau prestasi, tetapi pada karakter kontemplasi rasional sebagai suatu aktivitas manusia untuk mengalami pencerahan.
Kebaikan yang dikejar itulah yang disebut kebahagiaan. Dengan kata lain, manusia selalu menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Kendatipun ada manusia yang menginginkan penderitaan dalam hidupnya, hal itu disebabkan oleh karena situasi hidup yang dia hadapi. Artinya, manusia ingin menghindari penderitaan itu sendiri. Realitas inilah yang terjadi pada bangsa kita sekarang ini, bahwa rakyat hidup dalam realitas ketidakbahagiaan akibat kelaparan, kemiskinan, kekurangan perhatian pemerintah atas penderitaan rakyat. Maka dapat disimpulkan bahwa aliran “eudaemonisme ini yaitu lebih mengedepankan kepentingan Individual (pribadi), kelompok tertentu, daripada kepentingan Bersama".
2. Aliran Positivisme
Pandangan dunia empiris mengalami puncaknya pada aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. August Comte (1798-1857) adalah filsuf mempelopori aliran filsafat ini. Comte juga yang menciptakan sosiologi. Positivisme mendominasi ilmu pengetahuan pada abad 20 dan menetapkan kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut ilmu pengetahuan yang benar.
a. Kriteria untuk dapat terpenuhinya sebagai ilmu:
- Objektif. Teori-teori tentang semesta harus bebas nilai.
- Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya membicarakan tentang semesta yang diamati.
- Reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati.
- Naturalisme. Alam semesta adalah objek-objek bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam.
b. Klaim yang dikenakan oleh positivisme:
- Klaim kesatuan ilmu, ilmu-ilmu manusia dan ilmu-ilmu alam berada dibawah satu paradigma ilmu yang sama, yaitu paradigma positivistik.
- Klaim kesatuan bahasa. Bahasa perlu dimurnikan dari konsep-konsep metafisis dengan mengajukan parameter verifikasi.
-Klaim metode verifikasi. Metode verifikasi bersifat universal, berlaku baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu manusia.
3. Aliran Naturalisme
Tokoh aliran filsafat ini adalah Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Dia dilahirkan di
Switzerland, tetapi sebagian besar hidupnya dihabiskan di Perancis dimana dia menjadi filsuf terpimpin pada masanya. Rousseau diakui sebagai bapak romantisisme, yaitu suatu gerakan di mana para seniman dan para penulis menekankan tema-tema yang sentimentil, kealamiahan/kewajaran, dan kemurnian. Gagasan ini mempengaruhi konsepsi Rousseau tentang anak. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme sering disebut Negativisme.
Pandangan Rousseau tentang perkembangan anak disajikan dalam novelnya Emile (1762). Emile adalah teori pendidikan yang ditujukan kepada bangsawan kaya pada zamannya yang biasanya hidup artifisial dipenuhi dengan segala macam tata cara hidup ningrat. Dalam karyanya yang tersohor ini, Rousseau menggambarkan perawatan dan pemantauan seorang anak laki-laki bernama Emile dari masa bayi hingga dewasa muda.
Ajaran filsafat naturalisme romantik Rousseau dalam Emile antara lain berisi gagasan sebagai berikut: “Segala sesuatu yang berasal dari Sang Pencipta adalah baik, tetapi segala sesuatu menjadi rusak karena tangan manusia. Pendidikan Emile adalah pendidikan naturalistik atau alami dalam arti: (1) pendidikan yang mengembangkan
kemampuan-kemampuan alami atau bakat/pembawaan anak, (2) pendidikan yang berlangsung dalam alam, dan (3) pendidikan negatif. Dengan menggunakan sarana berupa sastra, Rousseau mampu menggambarkan pandangan teoritisnya tentang perkembangan anak dan memberikan saran-saran mengenai metode yang paling tepat tentang cara merawat dan mendidik anak. Yang mendasar bagi teori Rousseau adalah kembalinya kepada pandangan
Descartes bahwa anak-anak dilahirkan dengan membawa pengetahuan dan ide, yang berkembang secara alamiah dengan usianya. Perkembangan dalam pandangan ini,
dihasilkan melalui suatu rangkaian tahapan yang dibimbing oleh suatu proses sejak
dilahirkan. Pengetahuan itu diperoleh secara bertahap melalui interaksi dengan
lingkungannya yang diarahkan oleh minat dan perkembangannya sendiri. Pengetahuan
bawaan anak meliputi hal-hal seperti prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran, dan yang
berada di atas semuanya yaitu rasa kesadaran. “Rouseau juga memandang bahwa anak
pada dasarnya adalah baik karena Tuhan membuat segala sesuatu baik
(Krogh,1994:15).
Sesuai dengan pandangan di atas, maka pendekatan untuk mendidik anak bukanlah
dengan mengajar anak secara formal atau melalui pengajaran langsung, akan tetapi
dengan memberi kesempatan kepada mereka belajar melalui proses eksplorasi dan
diskoveri. “Anak harus diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman
positif, diberi kebebasan dan mengikuti minat-minat spontannya. (Krogh, 1994:15).
Rousseau mengkritik pendidikan yang sifatnya artifisial atau dibuat-buat, dan dia
menganjurkan pendidikan itu harus natural.
Dalam biografinya Emile, Rousseau menyarankan bahwa untuk mendidik Emile
paling sedikit harus mengandung tiga gagasan yang saat ini didukung oleh beberapa
ahli pendidikan. Pertama, anak-anak dapat didorong untuk mempelajari disiplin ilmu
(body of knowledge) hanya apabila mereka telah memiliki kesiapan kognitif untuk
mempelajarinya. Kedua, anak-anak belajar sebaik mungkin apabila mereka didorongsecara mudah kepada informasi atau gagasan dan dilibatkan untuk memperoleh suatu
pemahaman tentang dirinya melalui proses penemuan oleh dirinya sendiri. Ketiga,
perawatan dan pendidikan anak harus membantu perkembangan secara permisif dari pada
menggunakan jenis interaksi yang mengandung disiplin kaku, karena disiplin kaku tidak
sesuai dengan pandangan yang lebih romantis tentang anak. Sesuai dengan
pandangannya bahwa anak dilahirkan membawa bakat yang baik, maka pendidikan
adalah pengembangan bakat anak secara maksimal melalui pembiasaan, latihan,
interaksi dengan alam, permainan, partisipasi dalam kehidupan, serta penyediaan
kesempatan belajar dan belajar selaras dengan tahap-tahap perkembangan anak.
Naturalisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran (M. Arifin dan
Aminuddin R., 1992: 9), yaitu:
a. Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara
pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam dirinya
secara alami.
b. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik
berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu
mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap
kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab
belajar terletak pada diri anak didik sendiri.
c. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat denganmenyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik. Anak
didik secara bebas diberi kesempatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sendiri
sesuai dengan minat dan perhatiannya.
Dengan demikian, aliran Naturalisme menitikberatkan pada strategi pembelajaran yang
bersifat paedosentris; artinya, faktor kemampuan individu anak didik menjadi pusat
kegiatan proses belajar-mengajar.
4. Aliran Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali. Idealisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa alam semesta ini adalah perwujudan intelegensi dan kemauan, hal zat atau substansi yang kekal dan abadi dalam dunia ini bersifat keijiwaan, spiritual atau rohaniah. Dan hal-hal yang bersifat materil bersumber kepada hal-hal yang bersifat kejiwaan. Tokoh aliran ini antara lain Plato, David Hume, dan Hegel.
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari
mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu
sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu.
Pandangannya tentang hakikat pengetahuan menyatakan bahwa pengetahuan yang benar
diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali. Pengetahuan yang diperoleh melalui
indera tidak pasti, tidak lengkap, karena dunia materi hanyalah tipuan belaka, sifatnya maya, dan menyimpang dari keadaan lingkungan yang lebih sempurna. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran cemerlang, dan sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat.
Sehubungan dengan teori pengetahuannya, intelek dan akal memegang peranan yang sangat penting atau menentukan proses belajar mengajar, karena menurut aliran ini manusia akan dapat memperoleh pengetahuan dan kebenaran sejati. Dengan demikian pengetahuan yang diajarkan di sekolah harus bersifat intelektual. Hakikat nilai menurut pandangan idealisme bersifat absolut. Standar tingkah laku manusia diatur oleh kewajiban moral yang diturunkan dari kenyataan sebenarnya atau metafisik. Hanya satu kebenaran, yaitu kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta.
Pendidikan menurut idealisme diartikan sebagai upaya terencana untuk mewujudkan
manusia ideal yaitu manusia yang dapat mencapai keselarasan individual yang terpadu
dalam keselarasan alam semesta. Upaya pendidikan harus ditujukan pada pembentukan
karakter, watak, menusia yang berbudi luhur, pengembangan bakat insani dan kebajikan social. Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu
mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut.
Sumber:
1. http://blogoranghukum.blogspot.com/2011/11/aliran-aliran-etika-profesi.html
2. http://www.scribd.com/doc/56801306/ALIRAN-POSITIVISME
3. http://www.scribd.com/rumrosyid/d/45080023/5-Aliran-Naturalisme
4. http://www.scribd.com/doc/45080023/7/Aliran-Idealisme
Eudaemonisme yakni aliran filsafat etika yg menafsirkan tujuan manusia sehingga tercapainya kebahagiaan yang paripurna akibat mekarnya segala potensi manusia. Aristoteles (384-322), dalam bukunya yang berjudul “Nicomachean Ethics,” mencetuskan apa yang disebut sebagai etika “eudaemonisme” rasional (dari Yunani “eudaemon” yang berarti bahagia). Aristoteles mengatakan bahwa segala aktivitas hidup manusia terarah kepada kebaikan. Kebaikan yang dikejar itulah yang disebut kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan cetusan yang paling sempurna, ideal dan rasional dari aktivitas tindakan manusia. Namun, apa yang disebut sebagai kebahagiaan menurut Aristoteles, bukanlah sesuatu yang sudah selesai, rampung dan tuntas. Kebahagiaan harus disamakan dengan aktivitas, yaitu aktivitas mencari kebahagiaan. Dengan demikian, etika “eudaemonisme” Aristotelian adalah etika yang berhubungan dengan rasionalitas manusia.
Gagasan “eudaimonia” dalam pemahaman Epicuros, terwujud dalam “kenikmatan” (pleasure), yaitu kenikmatan yang mengalir dari aktivitas makan dan minum (the roots of all good is the pleasure that comes from the eating and drinking). Sedangkan menurut kaum Epicurian, kebahagiaan terletak pada aktivitas dan kepuasan diri yang rendah. Tesis kaum Epicurian, kemudian dilanjutkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Bentham mengatakan, bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh dua unsur, yaitu perasaan sakit dan kenikmatan (pain and pleasure). Pengertian ini mengandaikan sebuah karakter untuk menghindari penderitaan dan mengejar kenikmatan, yaitu kenikmatan yang terbatas pada aktivitas makan dan minum.
Berbeda dengan Epicuros, Jeremy Bentham dan kaum Epicurian, Aristoteles tidak meletakkan “eudaimonia” pada “rasa, cita rasa dan kenikmatan.” Etika “eudaimonia” Aristoteles lebih mengarah kepada karakter rasional. Bagi Aristoteles, manusia dengan rasionya (akal budinya), dapat meraih kebahagiaan bagi hidupnya. Namun, menurut Aristoteles, manusia harus menjalankan aktivitasnya (akal budinya) menurut keutamaan (virtue) untuk mencapai kebahagiaan, karena aktivitas yang disertai keutamaan (virtue) dapat membuat manusia bahagia. Kebahagiaan menurut Aristoteles tidak terletak pada pengertian menikmati hasil atau prestasi, tetapi pada karakter kontemplasi rasional sebagai suatu aktivitas manusia untuk mengalami pencerahan.
Kebaikan yang dikejar itulah yang disebut kebahagiaan. Dengan kata lain, manusia selalu menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Kendatipun ada manusia yang menginginkan penderitaan dalam hidupnya, hal itu disebabkan oleh karena situasi hidup yang dia hadapi. Artinya, manusia ingin menghindari penderitaan itu sendiri. Realitas inilah yang terjadi pada bangsa kita sekarang ini, bahwa rakyat hidup dalam realitas ketidakbahagiaan akibat kelaparan, kemiskinan, kekurangan perhatian pemerintah atas penderitaan rakyat. Maka dapat disimpulkan bahwa aliran “eudaemonisme ini yaitu lebih mengedepankan kepentingan Individual (pribadi), kelompok tertentu, daripada kepentingan Bersama".
2. Aliran Positivisme
Pandangan dunia empiris mengalami puncaknya pada aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. August Comte (1798-1857) adalah filsuf mempelopori aliran filsafat ini. Comte juga yang menciptakan sosiologi. Positivisme mendominasi ilmu pengetahuan pada abad 20 dan menetapkan kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut ilmu pengetahuan yang benar.
a. Kriteria untuk dapat terpenuhinya sebagai ilmu:
- Objektif. Teori-teori tentang semesta harus bebas nilai.
- Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya membicarakan tentang semesta yang diamati.
- Reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati.
- Naturalisme. Alam semesta adalah objek-objek bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam.
b. Klaim yang dikenakan oleh positivisme:
- Klaim kesatuan ilmu, ilmu-ilmu manusia dan ilmu-ilmu alam berada dibawah satu paradigma ilmu yang sama, yaitu paradigma positivistik.
- Klaim kesatuan bahasa. Bahasa perlu dimurnikan dari konsep-konsep metafisis dengan mengajukan parameter verifikasi.
-Klaim metode verifikasi. Metode verifikasi bersifat universal, berlaku baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu manusia.
3. Aliran Naturalisme
Tokoh aliran filsafat ini adalah Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Dia dilahirkan di
Switzerland, tetapi sebagian besar hidupnya dihabiskan di Perancis dimana dia menjadi filsuf terpimpin pada masanya. Rousseau diakui sebagai bapak romantisisme, yaitu suatu gerakan di mana para seniman dan para penulis menekankan tema-tema yang sentimentil, kealamiahan/kewajaran, dan kemurnian. Gagasan ini mempengaruhi konsepsi Rousseau tentang anak. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme sering disebut Negativisme.
Pandangan Rousseau tentang perkembangan anak disajikan dalam novelnya Emile (1762). Emile adalah teori pendidikan yang ditujukan kepada bangsawan kaya pada zamannya yang biasanya hidup artifisial dipenuhi dengan segala macam tata cara hidup ningrat. Dalam karyanya yang tersohor ini, Rousseau menggambarkan perawatan dan pemantauan seorang anak laki-laki bernama Emile dari masa bayi hingga dewasa muda.
Ajaran filsafat naturalisme romantik Rousseau dalam Emile antara lain berisi gagasan sebagai berikut: “Segala sesuatu yang berasal dari Sang Pencipta adalah baik, tetapi segala sesuatu menjadi rusak karena tangan manusia. Pendidikan Emile adalah pendidikan naturalistik atau alami dalam arti: (1) pendidikan yang mengembangkan
kemampuan-kemampuan alami atau bakat/pembawaan anak, (2) pendidikan yang berlangsung dalam alam, dan (3) pendidikan negatif. Dengan menggunakan sarana berupa sastra, Rousseau mampu menggambarkan pandangan teoritisnya tentang perkembangan anak dan memberikan saran-saran mengenai metode yang paling tepat tentang cara merawat dan mendidik anak. Yang mendasar bagi teori Rousseau adalah kembalinya kepada pandangan
Descartes bahwa anak-anak dilahirkan dengan membawa pengetahuan dan ide, yang berkembang secara alamiah dengan usianya. Perkembangan dalam pandangan ini,
dihasilkan melalui suatu rangkaian tahapan yang dibimbing oleh suatu proses sejak
dilahirkan. Pengetahuan itu diperoleh secara bertahap melalui interaksi dengan
lingkungannya yang diarahkan oleh minat dan perkembangannya sendiri. Pengetahuan
bawaan anak meliputi hal-hal seperti prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran, dan yang
berada di atas semuanya yaitu rasa kesadaran. “Rouseau juga memandang bahwa anak
pada dasarnya adalah baik karena Tuhan membuat segala sesuatu baik
(Krogh,1994:15).
Sesuai dengan pandangan di atas, maka pendekatan untuk mendidik anak bukanlah
dengan mengajar anak secara formal atau melalui pengajaran langsung, akan tetapi
dengan memberi kesempatan kepada mereka belajar melalui proses eksplorasi dan
diskoveri. “Anak harus diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman
positif, diberi kebebasan dan mengikuti minat-minat spontannya. (Krogh, 1994:15).
Rousseau mengkritik pendidikan yang sifatnya artifisial atau dibuat-buat, dan dia
menganjurkan pendidikan itu harus natural.
Dalam biografinya Emile, Rousseau menyarankan bahwa untuk mendidik Emile
paling sedikit harus mengandung tiga gagasan yang saat ini didukung oleh beberapa
ahli pendidikan. Pertama, anak-anak dapat didorong untuk mempelajari disiplin ilmu
(body of knowledge) hanya apabila mereka telah memiliki kesiapan kognitif untuk
mempelajarinya. Kedua, anak-anak belajar sebaik mungkin apabila mereka didorongsecara mudah kepada informasi atau gagasan dan dilibatkan untuk memperoleh suatu
pemahaman tentang dirinya melalui proses penemuan oleh dirinya sendiri. Ketiga,
perawatan dan pendidikan anak harus membantu perkembangan secara permisif dari pada
menggunakan jenis interaksi yang mengandung disiplin kaku, karena disiplin kaku tidak
sesuai dengan pandangan yang lebih romantis tentang anak. Sesuai dengan
pandangannya bahwa anak dilahirkan membawa bakat yang baik, maka pendidikan
adalah pengembangan bakat anak secara maksimal melalui pembiasaan, latihan,
interaksi dengan alam, permainan, partisipasi dalam kehidupan, serta penyediaan
kesempatan belajar dan belajar selaras dengan tahap-tahap perkembangan anak.
Naturalisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran (M. Arifin dan
Aminuddin R., 1992: 9), yaitu:
a. Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara
pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam dirinya
secara alami.
b. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik
berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu
mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap
kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab
belajar terletak pada diri anak didik sendiri.
c. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat denganmenyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik. Anak
didik secara bebas diberi kesempatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sendiri
sesuai dengan minat dan perhatiannya.
Dengan demikian, aliran Naturalisme menitikberatkan pada strategi pembelajaran yang
bersifat paedosentris; artinya, faktor kemampuan individu anak didik menjadi pusat
kegiatan proses belajar-mengajar.
4. Aliran Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali. Idealisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa alam semesta ini adalah perwujudan intelegensi dan kemauan, hal zat atau substansi yang kekal dan abadi dalam dunia ini bersifat keijiwaan, spiritual atau rohaniah. Dan hal-hal yang bersifat materil bersumber kepada hal-hal yang bersifat kejiwaan. Tokoh aliran ini antara lain Plato, David Hume, dan Hegel.
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari
mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu
sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu.
Pandangannya tentang hakikat pengetahuan menyatakan bahwa pengetahuan yang benar
diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali. Pengetahuan yang diperoleh melalui
indera tidak pasti, tidak lengkap, karena dunia materi hanyalah tipuan belaka, sifatnya maya, dan menyimpang dari keadaan lingkungan yang lebih sempurna. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran cemerlang, dan sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat.
Sehubungan dengan teori pengetahuannya, intelek dan akal memegang peranan yang sangat penting atau menentukan proses belajar mengajar, karena menurut aliran ini manusia akan dapat memperoleh pengetahuan dan kebenaran sejati. Dengan demikian pengetahuan yang diajarkan di sekolah harus bersifat intelektual. Hakikat nilai menurut pandangan idealisme bersifat absolut. Standar tingkah laku manusia diatur oleh kewajiban moral yang diturunkan dari kenyataan sebenarnya atau metafisik. Hanya satu kebenaran, yaitu kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta.
Pendidikan menurut idealisme diartikan sebagai upaya terencana untuk mewujudkan
manusia ideal yaitu manusia yang dapat mencapai keselarasan individual yang terpadu
dalam keselarasan alam semesta. Upaya pendidikan harus ditujukan pada pembentukan
karakter, watak, menusia yang berbudi luhur, pengembangan bakat insani dan kebajikan social. Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu
mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut.
Sumber:
1. http://blogoranghukum.blogspot.com/2011/11/aliran-aliran-etika-profesi.html
2. http://www.scribd.com/doc/56801306/ALIRAN-POSITIVISME
3. http://www.scribd.com/rumrosyid/d/45080023/5-Aliran-Naturalisme
4. http://www.scribd.com/doc/45080023/7/Aliran-Idealisme
Senin, 14 November 2011
Sabtu, 15 Oktober 2011
Cloud Computing
Cloud computing merupakan sebuah paradigma baru pada dunia IT dalam pemberian layanan komputasi (IT Services) dengan konsep Layanan/ service yang diberikan pay-as-you-go melalui media Internet. Istilah cloud mengacu pada ilustrasi Internet pada kebanyakan buku teks book bidang IT yang menggambarkan remote environment dan penyembunyian kompleksitas. Tujuan dari penyembunyian kekompleksan adalah untuk memudahkan pemberian layanan terhadap jaringan resource komputer yang dapat dipesan, dilepas dan dikonfigurasi dengan mudah dan cepat serta untuk meminimumkan intervensi pengelola ISP.
Cloud Computing adalah suatu model penyediaan sumber daya komputasi atau teknologi informasi (software, processing power, storage, dan lainnya) yang memungkinkan pelanggan dapat "menyewa dan menggunakan” sumber daya sesuai kebutuhannya (on-demand) berbasis internet (NIST). Cloud computing adalah generasi termaju dari internet computing, yang menyediakan tenaga komputasi hingga infrastruktur komputasi, aplikasi-aplikasi, proses bisnis, hingga kolaborasi yang muncul sebagai layanan yang dapat diakses pada saaat dibutuhkan kapanpun dan dimanapun.
Keuntungan Cloud Computing
Cloud computing menghapus silo-silo dalam ‘data center’ tradisional
Arsitektur awan memiliki skalabilitas, fleksibilitas, dan transparansi yang memungkinkan layanan TI baru dapat disediakan dengan cepat dan biaya efektif dengan menggunakan service level agreements (SLA) yang mencakup IT requirement dan policy, memenuhi permintaan high utilization, dinamis, merespon perubahan, dan memenuhi tingkat keamanan dan kinerja yang tinggi
Lebih efisien karena menggunakan anggaran yang rendah untuk sumber daya
Membuat lebih eglity, dengan mudah dapat berorientasi pada profit dan perkembangan yang cepat
Membuat operasional dan manajemen lebih mudah, dimungkinkan karena system pribadi atau perusahaan yang terkoneksi dalam satu cloud dapat dimonitor dan diatur dengan mudah
Menjadikan koloborasi yang terpecaya dan lebih ramping
Membantu dalam menekan biaya operasi biaya modal pada saat kita meningkatkan reliability dan kritikal sistem informasi yang kita bangun.
Dampak Cloud Computing
Cloud computing memiliki potensi membalikkan paradigma industry software, yang tadinya suatu aplikasi harus dibeli dan dijalankan di dekstop, sementara pada cloud aplikasi dan lisensi berjalan melalui jaringan.
Dengan adanya perubahan ini akan memungkinkan data center dan administrator-administrator yang berada di pusat jaringan distribusi, processing power, elektrikal, bahdwidth dan storage dapat dikelola secara remote.
Hal ini tidak hanya berdampak kepada model bisnis, tetapi juga berkaitan dengan arsitektur utama bagaimana suatu aplikasi dikembangkan, di bangun dan dijalankan.
Cloud computing terdiri dari beberapa layer atau lapisan, layer-layer itu antara lain:
Client, yaitu komputer fisik (software dan hardware) yang bergantung pada service dari cloud computing. Apabila tidak terkoneksi internet, maka client tidak dapat berbuat apa-apa.
Application, software service atau Software as Service (SaaS) yang mengirimkan atau menyedikan software via internet.
Platform, platform service atau Platform as Services (PaaS) yang menyediakan cloud infrastruktur atau infrastruktur maya yang mendukung cloud application.
Infrastructure, infrastructure service atau Infrastructure as Services (IaaS) merupakan virtualisasi dari platform service. disinilah user tidak perlu membeli hardware, melainkan menggunakan layer ini pada cloud computing.
Server, komputer fisik yang menjalankan segala kebutuhan client.
Karakteristik Utama Cloud Computing
On Demand Self Service
Pengguna dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia layanan, misalnya dengan menggunakan, sebuah portal web dan manajemen antarmuka. Pengadaan dan perlengkapan layanan serta sumberdaya yang terkait terjadi secara otomatis pada penyedia.
Broad Network Service
Layanan yang tersedia terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama untuk dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet, baik menggunakan thin client, thick client ataupun media lain seperti smartphone
Resources Pooling
Penyedia layanan cloud, memberikan layanan melalui sumberdaya yang dikelompokkan di satu atau berbagai lokasi date center yang terdiri dari sejumlah server dengan mekanisme multi-tenant. Mekanisme multi-tenant ini memungkinkan sejumlah sumberdaya komputasi tersebut digunakan secara bersama-sama oleh sejumlah user, dimana sumberdaya tersebut baik yang berbentuk fisik maupun virtual, dapat dialokasikan secara dinamis untuk kebutuhan pengguna/pelanggan sesuai permintaan. Dengan demikian, pelanggan tidak perlu tahu bagaimana dan darimana permintaan akan sumberdaya komputasinya dipenuhi oleh penyedia layanan. Yang penting, setiap permintaan dapat dipenuhi. Sumberdaya komputasi ini meliputi media penyimpanan, memory, processor, pita jaringan dan mesin virtual.
Rapid elasticity
Kapasitas komputasi yang disediakan dapat secara elastis dan cepat disediakan, baik itu dalam bentuk penambahan ataupun pengurangan kapasitas yang diperlukan. Untuk pelanggan sendiri, dengan kemampuan ini seolah-olah kapasitas yang tersedia tak terbatas besarnya, dan dapat dibeli" kapan saja dengan jumlah berapa saja.
Measured services
Sumberdaya cloud yang tersedia harus dapat diatur dan dioptimasi penggunaannya, dengan suatu sistem pengukuran yang dapat mengukur penggunaan dari setiap sumberdaya komputasi yang digunakan (penyimpanan, memory, processor, lebar pita, aktivitas user, dan lainnya). Dengan demikian, jumlah sumberdaya yang digunakan dapat secara transparan diukur yang akan menjadi dasar bagi user untuk membayar biaya penggunaan layanan.
Empat Deployment Model:
Public Cloud
Ini adalah cloud sesungguhnya, dimana vendor menyediakan jasanya secara umum dan perusahaan memakai bersama dengan perusahaan lain. Pemakai cloud tidak akan tahu siapa saja yang berbagi resource dengan mereka.
Community Cloud
Pemakai-pemakai cloud masih dalam satu group, dapat disediakan oleh pihak ketiga atau orang dalam. Umumnya metode ini dipakai jika seluruh pihak dalam satu group tersebut menginginkan control yang lebih tinggi, terutama berhubungan dengan compliance & security. Pemakai cloud menyadari siapa saja yang menggunakan cloud karena masih dalam satu group.
Private Cloud
Model ini banyak diperdebatkan karena pada dasarnya perusahaan masih harus melakukan maintain sendiri pada infrastrukturnya, sehingga benefit cloud menjadi berkurang. Pada private cloud, resource di-pool dan dibagi-bagikan sesuai kebutuhan.
Hybrid Cloud
Model ini menggabungkan public cloud dengan private atau model tradisional. Disini perusahaan berupaya untuk memanfaatkan keuntungan cloud tetapi tetap menyimpan data yang sangat penting dalam server internal mereka (pertimbangan keamanan dan compliance)
Cloud Computing adalah suatu model penyediaan sumber daya komputasi atau teknologi informasi (software, processing power, storage, dan lainnya) yang memungkinkan pelanggan dapat "menyewa dan menggunakan” sumber daya sesuai kebutuhannya (on-demand) berbasis internet (NIST). Cloud computing adalah generasi termaju dari internet computing, yang menyediakan tenaga komputasi hingga infrastruktur komputasi, aplikasi-aplikasi, proses bisnis, hingga kolaborasi yang muncul sebagai layanan yang dapat diakses pada saaat dibutuhkan kapanpun dan dimanapun.
Keuntungan Cloud Computing
Cloud computing menghapus silo-silo dalam ‘data center’ tradisional
Arsitektur awan memiliki skalabilitas, fleksibilitas, dan transparansi yang memungkinkan layanan TI baru dapat disediakan dengan cepat dan biaya efektif dengan menggunakan service level agreements (SLA) yang mencakup IT requirement dan policy, memenuhi permintaan high utilization, dinamis, merespon perubahan, dan memenuhi tingkat keamanan dan kinerja yang tinggi
Lebih efisien karena menggunakan anggaran yang rendah untuk sumber daya
Membuat lebih eglity, dengan mudah dapat berorientasi pada profit dan perkembangan yang cepat
Membuat operasional dan manajemen lebih mudah, dimungkinkan karena system pribadi atau perusahaan yang terkoneksi dalam satu cloud dapat dimonitor dan diatur dengan mudah
Menjadikan koloborasi yang terpecaya dan lebih ramping
Membantu dalam menekan biaya operasi biaya modal pada saat kita meningkatkan reliability dan kritikal sistem informasi yang kita bangun.
Dampak Cloud Computing
Cloud computing memiliki potensi membalikkan paradigma industry software, yang tadinya suatu aplikasi harus dibeli dan dijalankan di dekstop, sementara pada cloud aplikasi dan lisensi berjalan melalui jaringan.
Dengan adanya perubahan ini akan memungkinkan data center dan administrator-administrator yang berada di pusat jaringan distribusi, processing power, elektrikal, bahdwidth dan storage dapat dikelola secara remote.
Hal ini tidak hanya berdampak kepada model bisnis, tetapi juga berkaitan dengan arsitektur utama bagaimana suatu aplikasi dikembangkan, di bangun dan dijalankan.
Cloud computing terdiri dari beberapa layer atau lapisan, layer-layer itu antara lain:
Client, yaitu komputer fisik (software dan hardware) yang bergantung pada service dari cloud computing. Apabila tidak terkoneksi internet, maka client tidak dapat berbuat apa-apa.
Application, software service atau Software as Service (SaaS) yang mengirimkan atau menyedikan software via internet.
Platform, platform service atau Platform as Services (PaaS) yang menyediakan cloud infrastruktur atau infrastruktur maya yang mendukung cloud application.
Infrastructure, infrastructure service atau Infrastructure as Services (IaaS) merupakan virtualisasi dari platform service. disinilah user tidak perlu membeli hardware, melainkan menggunakan layer ini pada cloud computing.
Server, komputer fisik yang menjalankan segala kebutuhan client.
Karakteristik Utama Cloud Computing
On Demand Self Service
Pengguna dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia layanan, misalnya dengan menggunakan, sebuah portal web dan manajemen antarmuka. Pengadaan dan perlengkapan layanan serta sumberdaya yang terkait terjadi secara otomatis pada penyedia.
Broad Network Service
Layanan yang tersedia terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama untuk dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet, baik menggunakan thin client, thick client ataupun media lain seperti smartphone
Resources Pooling
Penyedia layanan cloud, memberikan layanan melalui sumberdaya yang dikelompokkan di satu atau berbagai lokasi date center yang terdiri dari sejumlah server dengan mekanisme multi-tenant. Mekanisme multi-tenant ini memungkinkan sejumlah sumberdaya komputasi tersebut digunakan secara bersama-sama oleh sejumlah user, dimana sumberdaya tersebut baik yang berbentuk fisik maupun virtual, dapat dialokasikan secara dinamis untuk kebutuhan pengguna/pelanggan sesuai permintaan. Dengan demikian, pelanggan tidak perlu tahu bagaimana dan darimana permintaan akan sumberdaya komputasinya dipenuhi oleh penyedia layanan. Yang penting, setiap permintaan dapat dipenuhi. Sumberdaya komputasi ini meliputi media penyimpanan, memory, processor, pita jaringan dan mesin virtual.
Rapid elasticity
Kapasitas komputasi yang disediakan dapat secara elastis dan cepat disediakan, baik itu dalam bentuk penambahan ataupun pengurangan kapasitas yang diperlukan. Untuk pelanggan sendiri, dengan kemampuan ini seolah-olah kapasitas yang tersedia tak terbatas besarnya, dan dapat dibeli" kapan saja dengan jumlah berapa saja.
Measured services
Sumberdaya cloud yang tersedia harus dapat diatur dan dioptimasi penggunaannya, dengan suatu sistem pengukuran yang dapat mengukur penggunaan dari setiap sumberdaya komputasi yang digunakan (penyimpanan, memory, processor, lebar pita, aktivitas user, dan lainnya). Dengan demikian, jumlah sumberdaya yang digunakan dapat secara transparan diukur yang akan menjadi dasar bagi user untuk membayar biaya penggunaan layanan.
Empat Deployment Model:
Public Cloud
Ini adalah cloud sesungguhnya, dimana vendor menyediakan jasanya secara umum dan perusahaan memakai bersama dengan perusahaan lain. Pemakai cloud tidak akan tahu siapa saja yang berbagi resource dengan mereka.
Community Cloud
Pemakai-pemakai cloud masih dalam satu group, dapat disediakan oleh pihak ketiga atau orang dalam. Umumnya metode ini dipakai jika seluruh pihak dalam satu group tersebut menginginkan control yang lebih tinggi, terutama berhubungan dengan compliance & security. Pemakai cloud menyadari siapa saja yang menggunakan cloud karena masih dalam satu group.
Private Cloud
Model ini banyak diperdebatkan karena pada dasarnya perusahaan masih harus melakukan maintain sendiri pada infrastrukturnya, sehingga benefit cloud menjadi berkurang. Pada private cloud, resource di-pool dan dibagi-bagikan sesuai kebutuhan.
Hybrid Cloud
Model ini menggabungkan public cloud dengan private atau model tradisional. Disini perusahaan berupaya untuk memanfaatkan keuntungan cloud tetapi tetap menyimpan data yang sangat penting dalam server internal mereka (pertimbangan keamanan dan compliance)
Senin, 23 Mei 2011
Masjid Sayyidah Zainab Damaskus, Integrasi Segala Bentuk Keindahan
Salah satu tujuan ziarah dan wisata ruhani menarik lain di Damaskus, Suriah, adalah Masjid Sayyidah Zainab. Masjid anggun sekaligus makam bergaya Iran ini terletak di selatan Damaskus. Masjid ini menarik minat peziarah Muslim Syiah dari Iran dan seluruh dunia karena arsitektur keramiknya yang kebiru-biruan dan adanya makam Sayiddah Zainab, putri Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW.
Sebagian besar wisatawan atau peziarah yang mengunjungi Damaskus kerap melewatkan makam Sayyidah Zainab, namun keberadaannya sangat berharga sebagai sebuah bangunan indah dan pemandangan penuh emosi bagi Muslim Syiah di luar Karbala dan Najaf di Irak. Mengunjungi tempat ini begitu mudah dengan menggunakan taksi, dan pengunjung non-Muslim pun dipersilakan datang, namun terbatas di luar area makam.
Makam dan Masjid Sayiddah Zainab diyakini merupakan bekas rumah Siti Zainab, putri Ali bin Abi Thalib (Khalifah Rasyidah keempat). Dia ditawan oleh tentara Yazid bin Muawiyah setelah pembantaian saudara-saudaranya, Hassan dan Hussein, di Karbala dan Najaf. Bagi Muslim Syiah saat ini, ketika keluarga Ali dikhianati adalah saat yang menentukan dan paling tragis dalam sejarah mereka. Dus, suasana di kompleks Masjid Sayyidah Zainab bukanlah sebuah ritual atau ibadah yang tenang dan senyap, namun gairah berkabung yang diruapi ratapan, nyanyian, tangisan dan 'penyiksaan' diri dengan memukul-mukul dada.
Adapun masjidnya sendiri dibangun Sejak 1990-an, di atas sebuah makam yang sudah ada sebelumnya. Memang lokasi masjid ini agak sedikit sulit ditemukan, ia bagai tersembunyi di balik deretan toko, pasar dan hotel-hotel. Untuk menemukannya, cukup dengan melihat salah satu menara biru yang menjulang, atau lebih baik lagi dengan mengikuti arus peziarah berjubah hitam yang mengalir menuju pintu masuknya.
Masjid ini terdiri dari sebuah halaman luas dengan bangunan di tengahnya. Secara arsitektur, masjid ini memiliki semua ciri-ciri masjid khas Iran; dekorasi hiasan yang menonjolkan keramik biru, lapisan emas, dan cermin kaca. Masjid ini dilindungi kubah emas berkilauan.
Halaman masjid biasanya penuh dengan pria dan wanita yang berbaris dalam lingkaran, melagukan kidung dalam bahasa Persia atau Arab sambil memukul-mukul dada mereka. Seringkali aksi ini sengaja direkam dengan kamera video. Adegan ini dipimpin oleh seorang imam.
Ketika bernyanyi dan memukul dada, aliran air mata menetes deras di pipi mereka, seolah-olah mereka merasakan tragedi pedih yang dialami Zainab ketika kehilangan saudara dan menjadi tawanan. Dalam ritual ini, seolah-olah mereka menghadiri sendiri pemakaman Zainab. Dan itulah cara Syiah memandang peristiwa yang menimpa cucu Rasulullah.
Kompleks makamnya sendiri terbagi menjadi dua bagian; untuk pria dan wanita. Alas kaki harus ditinggalkan di depan pintu makam. Ruangan makam, walau relatif kecil namun selalu ramai. Ruang untuk jamaah wanita dan pria hanya dibatasi oleh dinding kayu tipis. Ratap dan isak tangis dari kedua bagian ini saling sahut-bersahutan ke sisi yang lain.
Tak hanya dari ruangan wanita, dari ruangan ziarah kaum pria pun isak tangis yang terdengar tak kalah serunya. Semua yang hadir, tua ataupun muda duduk membentuk lingkaran sambil memukul dada, menangis dan meratap. Saking ekstasenya, beberapa orang bahkan melemparkan diri ke dinding makam, memeluk, memutari dan menghujaninya dengan ciuman. Yang lain berlutut dan berdoa, dahi mereka menempel pada serpihan batu yang diambil dari bumi Karbala.
Para sejarawan mengatakan bahwa Mousa Murtadha—kakek sang penjaga makam—membangun kompleks makam dari campuran batu, bata dan kayu. Pada 1870 langit-langit makam yang hancur direnovasi dengan bata dan diperkuat kerangka kayu oleh Salim Murtadha, yang memberikan hak pemeliharaan makam kepada anaknya, dan kemudian penerusnya yang tertua. Saat ini komplek makam Sayyidah Zainab dikelola oleh sebuah komite yang diketuai bersama oleh Hani Murtadha dan Mohammad Ridha Murtadha.
Pada 1952, Mohammad Ridha Murtadha menyiapkan skema kompleks Masjid Sayyidah Zainab dengan luas 150 x 190 meter persegi; luas halaman 90 x 90 meter persegi dan luas ruang utama masjid 30 X 30 meter persegi. Lantai masjid ditutupi ubin marmer berkilau. Masjid ini memiliki empat pintu gerbang, masing-masing selebar empat meter dengan serambi seluas empat meter pula.
Atap masjid setinggi 10 meter ditutupi dengan keramik dan porselen Iran nan indah. Kubahnya dilapisi lempengan emas murni yang membuatnya berkilauan di siang maupun malam hari, kian menarik dipandang dari segala penjuru.
Jika arsitektur dianggap sebagai cetakan seni terintegrasi, maka Masjid Sayyidah Zainab merepresentasikan nilai estetika dan arsitektur Islam modern. Ia memperkaya khazanah Islam dan warisan dunia karena mempertautkan semua bentuk keindahan seni; fotografi, ornamen, kaligrafi, selain seni terapan seperti porselen, cermin, kaca, dekorasi, karpet tenun, dan balutan pencahayaan.
Untuk memperluas area masjid, berdasarkan rekomendasi Menteri Waqaf dan Departemen Perumahan, komite pembangunan membeli beberapa real estate di sebelahnya pada 1979 dan mengalokasikan anggaran yang diperlukan untuk memulai proyek perluasan yang hingga kini belum terlaksana.
Komite ini menjadikan masjid sebagai sebuah usaha wisata religius yang digarap secara profesional dengan karyawan sebanyak 90 orang. Salah satu tugas komite lainnya adalah mendanai dan melindungi masjid serta mengelola keuangannya. Kini Masjid Sayyidah Zainab merupakan salah satu situs wisata religi di Suriah, dikunjungi oleh lebih dari satu setengah juta orang tiap tahunnya.
Sebagian besar wisatawan atau peziarah yang mengunjungi Damaskus kerap melewatkan makam Sayyidah Zainab, namun keberadaannya sangat berharga sebagai sebuah bangunan indah dan pemandangan penuh emosi bagi Muslim Syiah di luar Karbala dan Najaf di Irak. Mengunjungi tempat ini begitu mudah dengan menggunakan taksi, dan pengunjung non-Muslim pun dipersilakan datang, namun terbatas di luar area makam.
Makam dan Masjid Sayiddah Zainab diyakini merupakan bekas rumah Siti Zainab, putri Ali bin Abi Thalib (Khalifah Rasyidah keempat). Dia ditawan oleh tentara Yazid bin Muawiyah setelah pembantaian saudara-saudaranya, Hassan dan Hussein, di Karbala dan Najaf. Bagi Muslim Syiah saat ini, ketika keluarga Ali dikhianati adalah saat yang menentukan dan paling tragis dalam sejarah mereka. Dus, suasana di kompleks Masjid Sayyidah Zainab bukanlah sebuah ritual atau ibadah yang tenang dan senyap, namun gairah berkabung yang diruapi ratapan, nyanyian, tangisan dan 'penyiksaan' diri dengan memukul-mukul dada.
Adapun masjidnya sendiri dibangun Sejak 1990-an, di atas sebuah makam yang sudah ada sebelumnya. Memang lokasi masjid ini agak sedikit sulit ditemukan, ia bagai tersembunyi di balik deretan toko, pasar dan hotel-hotel. Untuk menemukannya, cukup dengan melihat salah satu menara biru yang menjulang, atau lebih baik lagi dengan mengikuti arus peziarah berjubah hitam yang mengalir menuju pintu masuknya.
Masjid ini terdiri dari sebuah halaman luas dengan bangunan di tengahnya. Secara arsitektur, masjid ini memiliki semua ciri-ciri masjid khas Iran; dekorasi hiasan yang menonjolkan keramik biru, lapisan emas, dan cermin kaca. Masjid ini dilindungi kubah emas berkilauan.
Halaman masjid biasanya penuh dengan pria dan wanita yang berbaris dalam lingkaran, melagukan kidung dalam bahasa Persia atau Arab sambil memukul-mukul dada mereka. Seringkali aksi ini sengaja direkam dengan kamera video. Adegan ini dipimpin oleh seorang imam.
Ketika bernyanyi dan memukul dada, aliran air mata menetes deras di pipi mereka, seolah-olah mereka merasakan tragedi pedih yang dialami Zainab ketika kehilangan saudara dan menjadi tawanan. Dalam ritual ini, seolah-olah mereka menghadiri sendiri pemakaman Zainab. Dan itulah cara Syiah memandang peristiwa yang menimpa cucu Rasulullah.
Kompleks makamnya sendiri terbagi menjadi dua bagian; untuk pria dan wanita. Alas kaki harus ditinggalkan di depan pintu makam. Ruangan makam, walau relatif kecil namun selalu ramai. Ruang untuk jamaah wanita dan pria hanya dibatasi oleh dinding kayu tipis. Ratap dan isak tangis dari kedua bagian ini saling sahut-bersahutan ke sisi yang lain.
Tak hanya dari ruangan wanita, dari ruangan ziarah kaum pria pun isak tangis yang terdengar tak kalah serunya. Semua yang hadir, tua ataupun muda duduk membentuk lingkaran sambil memukul dada, menangis dan meratap. Saking ekstasenya, beberapa orang bahkan melemparkan diri ke dinding makam, memeluk, memutari dan menghujaninya dengan ciuman. Yang lain berlutut dan berdoa, dahi mereka menempel pada serpihan batu yang diambil dari bumi Karbala.
Para sejarawan mengatakan bahwa Mousa Murtadha—kakek sang penjaga makam—membangun kompleks makam dari campuran batu, bata dan kayu. Pada 1870 langit-langit makam yang hancur direnovasi dengan bata dan diperkuat kerangka kayu oleh Salim Murtadha, yang memberikan hak pemeliharaan makam kepada anaknya, dan kemudian penerusnya yang tertua. Saat ini komplek makam Sayyidah Zainab dikelola oleh sebuah komite yang diketuai bersama oleh Hani Murtadha dan Mohammad Ridha Murtadha.
Pada 1952, Mohammad Ridha Murtadha menyiapkan skema kompleks Masjid Sayyidah Zainab dengan luas 150 x 190 meter persegi; luas halaman 90 x 90 meter persegi dan luas ruang utama masjid 30 X 30 meter persegi. Lantai masjid ditutupi ubin marmer berkilau. Masjid ini memiliki empat pintu gerbang, masing-masing selebar empat meter dengan serambi seluas empat meter pula.
Atap masjid setinggi 10 meter ditutupi dengan keramik dan porselen Iran nan indah. Kubahnya dilapisi lempengan emas murni yang membuatnya berkilauan di siang maupun malam hari, kian menarik dipandang dari segala penjuru.
Jika arsitektur dianggap sebagai cetakan seni terintegrasi, maka Masjid Sayyidah Zainab merepresentasikan nilai estetika dan arsitektur Islam modern. Ia memperkaya khazanah Islam dan warisan dunia karena mempertautkan semua bentuk keindahan seni; fotografi, ornamen, kaligrafi, selain seni terapan seperti porselen, cermin, kaca, dekorasi, karpet tenun, dan balutan pencahayaan.
Untuk memperluas area masjid, berdasarkan rekomendasi Menteri Waqaf dan Departemen Perumahan, komite pembangunan membeli beberapa real estate di sebelahnya pada 1979 dan mengalokasikan anggaran yang diperlukan untuk memulai proyek perluasan yang hingga kini belum terlaksana.
Komite ini menjadikan masjid sebagai sebuah usaha wisata religius yang digarap secara profesional dengan karyawan sebanyak 90 orang. Salah satu tugas komite lainnya adalah mendanai dan melindungi masjid serta mengelola keuangannya. Kini Masjid Sayyidah Zainab merupakan salah satu situs wisata religi di Suriah, dikunjungi oleh lebih dari satu setengah juta orang tiap tahunnya.
Waspada.. Orang Kurang Berpendidikan itu Cepat Tua Lho
Orang yang kurang berpendidikan itu cenderung menua lebih cepat. Demikian menurut sebuah penelitian di Inggris yang mencakup 400 wanita dan pria.
Bukti DNA memperlihatkan sel penuaan lebih sempurna di orang dewasa yang tidak punya kualifikasi pendidikan dibandingkan dengan mereka yang punya gelar sarjana. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal kesehatan Brain, Behaviour and Immunity.
Para peneliti berpikir pendidikan akan membuat orang hidup lebih sehat. Yayasan Jantung Inggris mengatakan penelitian yang dilakukan di London ini memperkuat perlunya usaha untuk mengatasi masalah kesenjangan sosial. Hubungan antara kesehatan dan status ekonomi sosial itu muncul dengan jelas lewat hasil penelitian ini.
Mereka yang miskin itu cenderung merokok, kurang berolahraga dan kurang punya akses untuk mendapatkan jaminan kesehatan dibanding mereka yang kaya. Selain itu, latar belakang pendidikan cenderung menjadi faktor penentu yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mereka dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena latar belakang pendidikan membantu orang mengambil keputusan yang lebih bagus terkait kondisi kesehatan mereka.
Andrew Steptoe, profesor dari University College London yang menggusung penelitian ini, mengatakan bahwa pendidikan adalah pertanda status sosial yang orang dapatkan dalam awal hidupnya. ''Penelitian kami menunjukan kondisi status sosial yang rendah itu mempercepat tumbuhnya sel penuaan,'' katanya.
Tim peneliti Professor Stetoe mengambil sampel darah dari lebih 400 orang dewasa berumur antara 53 dan 75 tahun.
Bukti DNA memperlihatkan sel penuaan lebih sempurna di orang dewasa yang tidak punya kualifikasi pendidikan dibandingkan dengan mereka yang punya gelar sarjana. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal kesehatan Brain, Behaviour and Immunity.
Para peneliti berpikir pendidikan akan membuat orang hidup lebih sehat. Yayasan Jantung Inggris mengatakan penelitian yang dilakukan di London ini memperkuat perlunya usaha untuk mengatasi masalah kesenjangan sosial. Hubungan antara kesehatan dan status ekonomi sosial itu muncul dengan jelas lewat hasil penelitian ini.
Mereka yang miskin itu cenderung merokok, kurang berolahraga dan kurang punya akses untuk mendapatkan jaminan kesehatan dibanding mereka yang kaya. Selain itu, latar belakang pendidikan cenderung menjadi faktor penentu yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mereka dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena latar belakang pendidikan membantu orang mengambil keputusan yang lebih bagus terkait kondisi kesehatan mereka.
Andrew Steptoe, profesor dari University College London yang menggusung penelitian ini, mengatakan bahwa pendidikan adalah pertanda status sosial yang orang dapatkan dalam awal hidupnya. ''Penelitian kami menunjukan kondisi status sosial yang rendah itu mempercepat tumbuhnya sel penuaan,'' katanya.
Tim peneliti Professor Stetoe mengambil sampel darah dari lebih 400 orang dewasa berumur antara 53 dan 75 tahun.
10 Cara Berhemat
Ada sepuluh ide untuk melakukan penghematan dengan cara sederhana, yang mudah dilakukan tanpa harus menjadi pelit.
1. Bawa air minum
Membeli air minum dalam kemasan tak hanya menambah sampah plastik tapi juga memboroskan uang. Bayangkan, jika dalam sehari Anda membeli sebotol air minum dengan harga Rp 3000, dalam sebulan Anda menghabiskan Rp 90 ribu. Sebagai gantinya, belilah botol minum sendiri — yang bisa diisi ulang.
2. Membawa daftar belanjaan
Buatlah daftar belanjaan sebelum pergi berbelanja ke toko. Pastikan daftar Anda hanya berisikan barang-barang yang memang Anda butuhkan. Hanya barang yang masuk daftar yang boleh dibeli, lainnya tidak.
3. Berjalan kaki lebih sering
Cobalah jalan kaki jika tujuan Anda cukup dekat. Kurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan gunakan kendaraan umum. Anda juga bisa mencoba memberi tumpangan dengan teman yang searah. Informasinya bisa didapat melalui beberapa komunitas yang berbagi kendaraan sepertiwww.nebeng.com.
4. Manfaatkan perpustakaan
Anda tidak perlu senantiasa membeli buku baru. Kunjungilah perpustakaan untuk mencari buku yang diperlukan.
5. Kurangi makan di luar
Usahakan memasak dan membawa bekal makan siang untuk di kantor. Memasak akan menghemat banyak biaya dibandingkan selalu makan di luar.
6.Jauhi ATM asing
Menarik uang dari bank selain bank Anda bisa menyebabkan pemotongan uang dari rekening. Jumlahnya bervariasi mulai dari Rp 3000 hingga Rp 20 ribu. Nilai ini nampaknya kecil, tapi bayangkan jumlah totalnya jika sering dilakukan.
7. Membuat kopi sendiri
Daripada membeli kopi mahal di kafe, lebih baik minum kopi buatan sendiri. Sedikit-sedikit mengirit lama-lama jadi bukit.
8. Kurangi ke mal
Jalan-jalan ke mal bisa mendatangkan banyak godaan untuk membeli barang secara impulsif. Maka itu, lebih baik habiskan waktu libur dengan piknik ke taman atau museum.
9. Manfaatkan kartu diskon
Beberapa toko menawarkan diskon bagi pelanggan yang punya kartu anggota. Manfaatkan hal ini dengan bijak. Awas, ini berbeda dengan membeli barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
10. Daur ulang
Kreatiflah: ada banyak ide yang bisa dilakukan untuk mendaur ulang barang yang tak digunakan lagi. Misalnya, memadukan pakaian lama dengan baju lain sehingga menjadi lebih menarik.
1. Bawa air minum
Membeli air minum dalam kemasan tak hanya menambah sampah plastik tapi juga memboroskan uang. Bayangkan, jika dalam sehari Anda membeli sebotol air minum dengan harga Rp 3000, dalam sebulan Anda menghabiskan Rp 90 ribu. Sebagai gantinya, belilah botol minum sendiri — yang bisa diisi ulang.
2. Membawa daftar belanjaan
Buatlah daftar belanjaan sebelum pergi berbelanja ke toko. Pastikan daftar Anda hanya berisikan barang-barang yang memang Anda butuhkan. Hanya barang yang masuk daftar yang boleh dibeli, lainnya tidak.
3. Berjalan kaki lebih sering
Cobalah jalan kaki jika tujuan Anda cukup dekat. Kurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan gunakan kendaraan umum. Anda juga bisa mencoba memberi tumpangan dengan teman yang searah. Informasinya bisa didapat melalui beberapa komunitas yang berbagi kendaraan sepertiwww.nebeng.com.
4. Manfaatkan perpustakaan
Anda tidak perlu senantiasa membeli buku baru. Kunjungilah perpustakaan untuk mencari buku yang diperlukan.
5. Kurangi makan di luar
Usahakan memasak dan membawa bekal makan siang untuk di kantor. Memasak akan menghemat banyak biaya dibandingkan selalu makan di luar.
6.Jauhi ATM asing
Menarik uang dari bank selain bank Anda bisa menyebabkan pemotongan uang dari rekening. Jumlahnya bervariasi mulai dari Rp 3000 hingga Rp 20 ribu. Nilai ini nampaknya kecil, tapi bayangkan jumlah totalnya jika sering dilakukan.
7. Membuat kopi sendiri
Daripada membeli kopi mahal di kafe, lebih baik minum kopi buatan sendiri. Sedikit-sedikit mengirit lama-lama jadi bukit.
8. Kurangi ke mal
Jalan-jalan ke mal bisa mendatangkan banyak godaan untuk membeli barang secara impulsif. Maka itu, lebih baik habiskan waktu libur dengan piknik ke taman atau museum.
9. Manfaatkan kartu diskon
Beberapa toko menawarkan diskon bagi pelanggan yang punya kartu anggota. Manfaatkan hal ini dengan bijak. Awas, ini berbeda dengan membeli barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
10. Daur ulang
Kreatiflah: ada banyak ide yang bisa dilakukan untuk mendaur ulang barang yang tak digunakan lagi. Misalnya, memadukan pakaian lama dengan baju lain sehingga menjadi lebih menarik.
Langganan:
Postingan (Atom)